Home » , » BERSAMA ASEP SUNANDAR SUNARYA, MENGENANG KELAHIRAN KANJENG NABI

BERSAMA ASEP SUNANDAR SUNARYA, MENGENANG KELAHIRAN KANJENG NABI

Written By Sanghyang Mughni Pancaniti on Jumat, 01 Juli 2016 | 12.48


Merayakan kelahiran Muhammad adalah cinta, itu yang dirasakan jutaan umat Muslim hari ini. Ekspresi cinta itu mereka tunjukan dengan beragam bentuk dan cara. Mereka seolah tak peduli dengan berbagai Fatwa bahwa perayaan maulid adalah bid'ah, dilarang, tak ada dalil, dan Nabi tak mengajarkan. Saya harus berpendapat, Nabi tak memerintahkan pengikutnya untuk merayakan Ulang Tahunnya, karena beliau bukan sosok Nabi yang Narsis seperti kebanyakan kita. Bahkan untuk digambar wajahnya saja, beliau merasa enggan.
Dari semua gegap gempita perayaan Maulid Nabi Muhammad, sebuah kelompok lebih banyak memilih mendatangkan seorang Pemuka Agama untuk berceramah, memberi petuah, Mauidhoh Hasanah, atau sekedar menziarahi sejarah bagaimana Nabi menjalani hidupnya melalui pembacaan Barjanji, Maulid Diba'i, dan Qasidah Burdah. Semuanya sah. Semuanya bertujuan meledakkan cinta dan meletupkan rindu kepada Manusia Agung itu. Muhammad bin Abdullah.
Supaya semua bentuk peringatan Maulid Nabi ini bermakna, tak sebatas ceremmonial belaka, Asep Sunandar Sunarya memberi jawabannya. Dalam salah satu lakon wayangnya ia memberi penegasan, "Perayaan Maulid bukanlah sebatas memperingati KELAHIRAN Kanjeng Nabi yang penuh mukjizat, melainkan sebuah perjanjian tak tertulis, bahwa kita akan sungguh-sungguh mengikuti apa yang telah dia LAHIRKAN."
Bagi saya, ungkapan Sang Maenstro Wayang Golek ini menarik. Dia seolah memberi pengertian baru, bahwa Maulid bukan 'merayakan kelahiran', yang seringkali membuat kita hanya tenggelam dalam romantisme sejarah. Tapi lebih dari itu, merayakan maulid adalah kita berjanji sekuat diri untuk mengikuti apa yang 'dilahirkan' Muhammad.
Lantas, apa yang dilahirkan Manusia Agung itu? "Sifat Shiddiq, Tabligh, Amanah, Fathonah, Welas Asih, Tawadhu, Toleransi, Penghormatan, dan cinta pada semua." Tutur Asep Sunandar Sunarya.
Semoga, ketika kita senantiasa berjuang mengikuti apa yang dilahirkan Nabi, membuat ucapan Maulana Jalaluddin Rumi benar-benar menjelma, "Sesungguhnya Muhammad tak hilang darimu, tapi justru dunia yang akan hilang dalam dirinya."
Desember. 23. 2015
Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2013 @ Pena Sanghyang Mughni Pancaniti
"Template by Maskolis"