Home » » DIA YANG MENYUNGGI KALAM TUHAN (Novel Biografi KH.Q. Ahmad Syahid)

DIA YANG MENYUNGGI KALAM TUHAN (Novel Biografi KH.Q. Ahmad Syahid)

Written By Sanghyang Mughni Pancaniti on Kamis, 23 Juli 2015 | 17.16

   
Pada mata Dayat, ada air mata yang hendak tumpah. Ada rasa sakit yang tertahan. Ia mencoba menguatkan dirinya, tak berontak, tak memberikan mata yang tajam kepada Sholeh, ayah yang sangat dihormatinya. Dayat tertunduk, diam, bungkam tak melawan, ketika Sholeh berkali-kali memukuli tubuhnya. Kali ini, Dayat melakukan sebuah kegiatan yang bagi ayahnya merupakan hal yang sia-sia, yakni menontong pagelaran Wayang Golek. Apalagi Dayat termasuk salah satu penyelenggaranya.
    Dayat tidak diberitahu, kenapa di mata Bapaknya menonton wayang adalah sebuah kesalahan? Bukankah ini adalah cerita belaka yang disisipi hikmah? Bukankah wayang merupakan salah satu media Walisongo untuk menyampaikan Islam ke seluruh Persada Nusantara?  Bahkan bagi Dayat, dalam setiap lakon wayang, ia bisa melihat bentuk keadilan dan ketidakadilan, wujud pengabdian dan pengkhianatan, serta pertarungan yang hak dan yang batil. Puncaknya, wayang tak sekedar tontonan, tapi juga merupakan tuntunan.
   “Maafkan saya, Pak.” Dayat mengiba, “Saya mohon ampun jika apa yang saya lakukan adalah kesalahan.”
   Dayat hanya ingin meminta maaf, mohon belas kasih Bapak yang dicintainya. Dia tak ingin berdebat, atau mencoba mempertanyakan apa yang dipikirkan ayahnya mengenai wayang. Dalam dadanya, hanya ada satu keyakinan, “Apa yang dilakukan bapak, pasti baik untuk saya.”
   Mendengar Dayat meronta memohon maaf, hati Sholeh terenyuh. Luluh. Marahnya seketika runtuh. Ia buru-buru memeluk Dayat, mengusap-ngusap bagian tubuh anaknya yang telah dipukulinya. Ia mencium Dayat bertubi-tubi, penuh sesal, seolah memberi penawar atas sakit yang telah ia tancapkan.
   “Bapak juga mohon maaf,” Sholeh memeluk Dayat erat, “Bapak hanya tak ingin kamu melakukan sesuatu yang tak berguna.”
   Dayat merasakan perkataan ayahnya meleleh di dada. Perkataan yang begitu sederhana, namun bergumul banyak makna. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi seorang Ayah, selain anaknya melakukan yang tidak berguna.
   Di balik pintu kamar, Ruqoyah, Ibu yang melahirkan Dayat, hanya mengelus-ngelus dada. Bahkan pada matanya yang mulai menua, ada air mata yang sudah lolos cukup lama. Dia tahu tabiat suaminya yang keras dalam mendidik anak-anaknya, dan ia bisa memakluminya. Tapi sebagai ibu, yang pernah menjadikan rahimnya sebagai rumah abadi bagi anak-anaknya, tentu merasa sangat terluka. Ia tak menerima melihat anaknya dipukuli, ia tak kuasa anaknya menahan rasa sakit. Apalagi Dayat, yang dulu sangat dirindukan kelahirannya.
   Dulu. Setelah bertahun-tahun menikah, Sholeh dan Ruqoyah tak langsung dianugrahi keturunan. Sebagai pasangan suami istri pada umumnya, kehadiran seorang anak memang amat didamba. Rasa kangen dan rindu, tak henti-henti menggelegak. Seperti Ibrahim mereka meminta, seperti Zakaria mereka mengiba, agar Tuhan sudi mengirimkan seorang anak yang bisa menjadi kaki untuk mereka melangkah, yang menjadi tangan untuk mereka meraba, yang menjadi mata untuk mereka melihat, yang menjadi telinga untuk mereka mendengar, juga yang menjadi cahaya dikala mereka punah dalam gelap.
   “Wahai Tuhan kekasih, jangan tinggalkan aku sendirian, dan Engkau adalah sebaik-baiknya Yang Mewariskan.” Do’a Nabi Zakaria ini bersenandung setiap malam di rumah Sholeh dan Ruqoyah. Do’a ini telah menjadi wirid, menjadi harap, menjadi sabda.
   Kerinduan yang sudah amat tua dan sakit, akhirnya meledak. Ruqoyah pun mengandung anak pertamanya. Mendengar kabar ini, Sholeh merasa bahwa kebahagiaan telah mengepung dadanya, dan semua penderitaan seakan lolos seketika. Genderang puja segera ia lantunkan kepada Tuhan, air mata yang tumpah ia jadikan puji-pujian yang terus dipersembahkan Keharibaan.
   “Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” Sholeh mengucap takbir berkali-kali, mendengar istrinya telah hamil.
  “Ibu benar sedang hamil?” Dalam keterpanaannya, Sholeh bertanya pada Ruqoyah, seolah masih tak percaya.
   “Iya, Pak, ibu sedang hamil 4 bulan.” Tukas Ruqoyah meyakinkan suaminya.
   Sholeh benar-benar tergetar hatinya, tumpah air matanya, mendengar kabar dari istrinya. Pada kesadarannya yang paling dalam, Sholeh mengangkat tangan dalam ketakjuban total. Ia bersujud-sujud di hamparan Shiroth Mustaqim, jalan yang ditegakkan. Ia juga menghadap jalan an’amta ‘alaihim, jalan dimana Sang Maha Tak Terbayangkan telah menyiapkan setinggi-tinggi nikmat.
   Saban hari Sholeh mendekap istrinya, menciumi perutnya, menyenandungkan do’a dan ayat-ayat al-Qur’an untuk buah cintanya. Sholeh meminta Ruqoyah untuk menjaga bayi yang dikandungnya. Jangan dulu bekerja yang berat-berat, dan harus banyak beristirahat. Sholeh melumuri Ruqoyah dengan manja.
   Semakin lama, ketika kandungan istrinya semakin membesar, Sholeh tambah terkesiap. Takjub. Terutama ketika jabang bayinya mulai menendang-nendang perut istrinya.
   “Maha Suci Allah, yang telah menciptakan rahim.” Gumam Sholeh saat mencium perut istrinya.
   Diri Sholeh tiba-tiba mencoba menyentuh dunia rahim yang Tuhan ciptakan untuk seorang perempuan. Melalui cinta sepasang orang tua, Tuhan menyimpan manusia pada rahim. Di ruang itu terjadi proses mengada, dimana ruh menyatu dengan tubuh. Di alam rahim, manusia membentuk komunitas kecil yang terdiri atas janin, air ketuban, dan plasenta. Mereka hidup penuh rukun, saling jaga, saling kenal, damai. Kehangatan, kebersamaan, dan kedamaian itu dialami sebagai situasi ideal yang kelak akan menjadi dambaan setiap manusia di dunia.
   “Pak, malam tadi saya bermimpi.” Kata Ruqoyah kepada Sholeh yang sedang duduk di sampingnya.
   “Mimpi apa, Bu?” Kata Sholeh menyambut ucapan istrinya lembut.
   “Saya melihat bulan.”
   “Melihat bulan?”
   “Iya, Pak.”
   “Terus?”
   “Cahaya bulan itu memancar, tapi hanya kepada saya.”
   “Subhanallah..”
   “Pertanda apa ini, ya, Pak? Semoga ini isyarat yang baik buat kita.”
  “Amin, Bu, semoga mimpi itu Allah berikan sebagai isyarat yang agung. Seperti isyarat yang diberikan-Nya kepada Nabi Zakaria, sebelum menerima Nabi Yahya. Atau seperti kabar gembira yang diberikan-Nya kepada Nabi Ibrahim, sebelum kelahiran Nabi Ishaq.”
   “Saya berharap, anak kita kelak akan menjadi bulan yang memancarkan cahayanya pada kegelapan.”
   “Semoga, Bu, bapak juga berharap, di tengah dunia yang nanti akan semakin gelap, semakin gulita, anak kita tetap membawa cahaya sebagai penerang, dan cahaya itu adalah Kalam Tuhan, al-Qur’an. Tidak hanya kepada dirinya cahaya itu menyorot, tapi juga kepada semesta.”
   “Menurut bapak, apa anak kita nanti lelaki?”
   “Wallahu ‘alam. Lelaki atau perempuan, dia adalah anugrah. Tidak boleh kita beda-bedakan. Di Mata Allah, lelaki dan perempuan sama saja agungnya, sama saja memberikan pesan.”
   “Pesan apa, Pak?”
   “Setiap kelahiran bayi tiba, dia membawa pesan bahwa Allah belum putus asa kepada manusia.”
   Mereka berdua larut dalam perbincangan yang penuh rindu, yang penuh cinta, tentang jabang bayinya, tentang mimpi, tentang bulan, tentang cahaya, tentang al-Qur’an, tentang Tuhan Semesta Alam.
    Bukan hal yang aneh, jika mimpi Ruqoyah tentang bulan, diisyaratkan Sholeh bahwa kelak anaknya akan menyunggi al-Qur’an, melafalkannya kemana-mana, menjajakan cahaya. Karena dirinya sendiri, dikenal sebagai Kyai yang begitu mencintai al-Qur’an. Gelar ini bukan karena dia pandai membaca al-Qur’an saja, melainkan ia memahaminya, mendalaminya, dan tak lelah mewujudkan firman yang dibacanya, dalam suatu gerak keterkaitan yang terus-menerus, sehingga ia mencapai kematangan dan kejernihan dalam menjalani hidup. Sholeh ingin al-Qur’an menjadi degup, menjadi detak, bahkan untuk anaknya kelak.
    Sedangkan Ruqoyah, dia adalah puteri dari pasangan KH. Muhammad Ishaq dan Hj. Salamah. Kakeknya Ruqoyah, yang bernama H. Zaen, masih memiliki hubungan darah dengan Mbah Mufid yang berasal dari Arab Saudi. Ketika Mbah Mufid singgah di Indonesia, salah satu tujuannya adalah berguru kepada Syekhuna Kholil Bangkalan Madura, yang sering disebut Gurunya Para Kyai. Dikala Perang Dunia II meledak, Mbah Mufid tak bisa kembali ke tanah kelahirannya, Arab Saudi, dengan alasan keamanan. Akhirnya, bersama kawannya yang bernama Lukmanul Hakim, ia tinggal di Cibiuk, menetap, dan menikah.
    Tepat pada tanggal 9 Januari 1945, beberapa bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan, lahirlah seorang Anak lelaki yang cekas, bersih, putih, suci, dari perut Ruqoyah. Tangan Sholeh gemetar ketika pertama kali menimang anaknya ini, ia bisikkan Lafadz Adzan di telinganya, mengucap do’a, kemudian menangis. Sholeh dan Ruqoyah benar-benar bersimbah suka cita. Bagi pasangan suami istri, tak ada nikmat yang lebih besar dibandingkan dengan kehadiran seorang anak. Mereka telah sempurna.
    Bagi Sholeh, tangis bayinya adalah surga, bukan siksa.
  Ketika bayinya menangis, yang menangis bukan naluri untung ruginya, bukan kemabukan hayawani seperti kalau orang dewasa berdagang, berpolitik, dan berkarier. Tangis bayinya adalah ekspresi alam dan budaya, dimana dimensi keindahan, kebaikan, dan kebenaran masih menyatu, total, dan masih bisa ‘dijamin’. Tangis bayinya adalah haq (kebenaran) Allah, sekaligus hub (cinta-)Nya yang indah dan menakjubkan. Tangis bayinya itu suci. Tanpa pamrih.
    Sambil menimang-nimang bayinya yang baru lahir, Sholeh tak ingin menghentikan tangisannya yang semakin lama semakin keras. Sholeh mengerti, seorang bayi pasti menangis karena awal rasa sakit dan penderitaan, sedangkan itu merupakan salah satu ‘tema’ gagasan penciptaan atas makhluk. Tangisan bayinya masih berupa ‘derita alam’, yang merupakan bagian dari keindahan orkestrasi nilai ciptaan Tuhan. Bayinya bukan menangis karena stress, karena kesengsaraan artificial sebagaimana kelak terjadi pada kehidupan orang-orang dewasa.
    Tangisan bayinya itu total, utuh, karena antara Kholik dengan Makhluk belum dijaraki oleh kebudayaan atau rekayasa manusia (Irodatunnas). Padanya masih bersatu tiga unsur: Asal-usul alam (Amrullah), sebab alam (Amrullah), dan disiplin untuk kembali kepada-Nya (Ilaihi Raji’un). Berbeda dengan orang dewasa, pada realitas sosialnya, kebudayaannya, dan peradabannya, ketiga unsur itu ditempuh melalui sejumlah jarak, yakni hisab atau perhitungan dosa dan pahala, rugi dan untung, perohanian, neraka dan surga.
   Baru merenungi tangisan bayinya saja, Sholeh sudah merasa terpukau oleh keagungan dan Kemaharajaan Allah. Dengan mengucapkan Basmalah, Sholeh memberi nama bayinya dengan Syarif Hidayatullah, yang selanjutnya mendapat panggilan Dayat.

BERSAMBUNG...

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2013 @ Pena Sanghyang Mughni Pancaniti
"Template by Maskolis"