Home » » GARONG

GARONG

Written By Sanghyang Mughni Pancaniti on Senin, 25 Juli 2016 | 21.14


Pada mulanya, jika aku mendengar kata-kata 'Garong', maka ingatanku akan tertuju kepada maling, pencopet, perampok, pencuri, atau kucing yang kerap mengambil makanan tanpa permisi. Darimana kalimat Garong itu berasal, aku tak pernah tau.

Kemudian, aku bertemu dengan salah satu esai-nya Fauz Noor berjudul 'Garong'. Dan rupanya, penilaianku salah besar! Dalam sejarahnya, Garong ditulis dengan huruf Kapital, dia adalah singkatan dari Gabungan Romusa Ngamuk. Siapa yang terkumpul di dalamnya? Para Kyai dan tokoh-tokoh besar, salah satunya adalah KH. Anwar Musaddad dan Muhammad Thaha yang namanya diabadikan sebagai pahlawan.

Ketika Jepang dan Belanda menjajah warga pribumi dalam waktu lama, mempekerjakannya tanpa bayaran yang manusiawi, segelintir orang bersepakat untuk melawan mereka, untuk berteriak "Cukup!" kepada sang penindas, dan untuk bangkit melakukan gerakan agar masyarakat kecil bisa menikmati hidup sejahtera. Akhirnya terbentuklah sebuah gerakan bernama 'GARONG' (Gabungan Romusa Ngamuk). Mereka berinisiatif mengambil kembali haknya yang dirampas penjajah. Oleh para penjajah itulah sebutan 'Garong' menjadi buruk.

Apa yang dilakukan para Garong tak jauh beda dengan apa yang dilakukan Robin Hood di Inggris, Need Kelly di Austria, Jase James di Amerika, Si Pitung di Betawi, Ken Arok di Jawa, Lagaan di India, atau Malik ibn Raib al-Mazini dan Abu Dzar al-Ghifari dalam peradaban Islam. Mereka semua sama, orang-orang baik yang mengambil harta dari si Lalim, untuk kemudian diberikan kepada rakyatnya yang sengsara.

Maka dari itu, jangan pernah panggil para Koruptor dengan sebutan 'Garong' lagi. Teu pantes!

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2013 @ Pena Sanghyang Mughni Pancaniti
"Template by Maskolis"